top banner 1

MAJALAH » Bisnis

Mengintip Pola Bisnis Operator dan CP
Senin, 16 November 2009

Hubungan operator dan CP (content provider) punya ikatan yang kuat, keduanya saling membutuhkan dalam beberapa pilihan pola bisnis. Seperti pola bisnis yang dituangkan oleh Strand Consult.

Walau denyut industri konten di Tanah Air belakangan terlihat lesu, tapi bukan berarti industri konten selular bakal mati. Konten tetap jalan tapi menyesuaikan dengan selera pasar. Meski tak semeriah beberapa tahun lalu, iklan konten SMS premium untuk ramalan, info jodoh, chatting, download ringtone/wallpaper, ring back tone dan games masih sering tampil di layar televisi. Artinya masih ada harapan dan investasi besar di segmen ini.

Sejalan dengan apa yang terjadi di Indonesia, laporan dari Mobile Entertainment Forum menyebutkan pada tahun 2008 ditaksir ada keuntungan 8,6 miliar US Dollar yang dinikmati oleh operator selular di seluruh dunia dari bisnis konten. Tapi, untuk pasar lokal belum ada data sahih tentang keuntungan operator dari berbisnis konten. Yang jelas, menurut kacamata awam kemitraaan CP- operator menjadi bagian penting dari industri ini. Pola bisnis antara operator dan CP terbilang sederhana, adanya pembagian keuntungan dari penjualan konten lewat jalur operator. Tapi sebenarnya, pola bisnis tak sekadar itu, seperti diungkap dari penelitian lembaga riset Strand Consult. Lembaga riset dari Denmark ini menjabarkan aliran bisnis operator dan CP dalam empat pola.

Empat pola itu adalah mobile operator centric, financial service provider centric, payment portal centric dan end user centric (lihat gambar). Masing-masing pola mempunyai karakter khusus pada kata centric, dimana centric mengindikasikan peran yang dominan dalam sebuah pola kerjasama. Seperti end-user centric, disini pelanggan punya keleluasaan tinggi untuk memilih beberapa cara pembayaran, tak harus terkait peran operator. Semisal membeli games atau lagu dari situs OVI atau iTunes dengan kartu kredit. Pada pola ini operator hanya berperan sebagai ”operator murni”, pola inilah yang paling banyak diterapkan di negara-negara yang mempunyai akses internet memadai, semisal Jepang, negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Lalu diantara empat pola, adakah yang pas untuk menggambarkan pasar konten di Tanah Air? Jawabannya ada, yakni pola mobile operator centric. Menurut Antonius Aditya, praktisi dan developer konten asal Yogyakarta, pola mobile provider centric adalah yang paling pas menggambarkan kondisi bisnis konten di Indonesia, sebab operator yang berperan dominan dalam banyak hal, termasuk skema bagi hasil dan pentarifan. Dalam gambar, pola mobile operator centric terlihat arus transaksi dari dan ke mobile operator, platform provider, service provider (CP), payment portal dan end user. Antara operator mobile bisa terkoneksi ke platform provider atau langsung ke CP. Platform provider disebut juga sebagai agregator atau agen pengumpul lisensi konten. Sedang payment portal adalah pilihan sistem pembayaran yang tersedia.

“Pada kenyataannya memang operator bisa terhubung lewat konten agregator ataupun langsung ke CP. Pola ini juga dicirikan operator menguasi bisnis dari hulu ke hilir, bahkan tak jarang operator melangkah lebih jauh sebagai CP atau disebut juga inhouse,” ujar Aditya. Dominannya peran operator juga disebabkan payment portal yang terbatas. Seperti diketahui sistem pembelian konten lebih laku lewat potong pulsa ketimbang beli voucher dan kartu kredit. Artinya lewat teknologi IN (intelligent network) operator berperan sebagai pengelola finance. Sedangkan pada payment portal centric dan financial service provider centric, dominasi dan insiatif bisnis lebih ditekankan oleh lembaga broker, seperti agen keuangan dan pembiayaan.

Tapi terlepas dari pola yang ada, setiap CP punya harapan agar bisa mendapat keuntungan yang besar. ”Pihak CP dasarnya punya keinginan penerapan sebuah pola yang sederhana agar keuntungan bisa cepat dinikmati dan tak perlu banyak potongan biaya,” Nurmalasari Soepiter General Manager PT NextNation Prisma (Ayofun). Dalam pola mobile operator centric, bola cenderung berada di tangan operator besar. Hal ini kerap memunculkan batasan dari operator dalam berkreativitas, sehingga risikonya konten yang disajikan terkesan monoton.

selular.co.id

Artikel sebelumnya